Piring, Pakaian, dan Bunga Korban Mimpi
Tak jarang aku
bertanya pada piring yang kugenggam setiap kali berada di ujung rumah dengan bulatan
serbut kelapa dan sabun. Apakah mereka tidak bosan setiap hari aku gosok? Kilapan
nya saat ditata di rak piring kayu bahkan tidak membahagiakan bagiku, rasanya
menusuk mata dan ingin kupecahkan sekali-kali. Mengesalkan.
“Telur mata sapi
ku, Makkkk!”
Helaan nafas kembali
keluar dari bibirku mendengar teriakan bocah lelaki yang sudah pasti sedang
berebut dengan kembarannya untuk lauk yang sudah terasa seperti makan tisu
bagiku. Tanpa mempedulikannya, aku beranjak ke urusanku dengan sabun
selanjutnya. Sabun yang menjadi pelumas gosokan antara pakaian dan pergelangan
tanganku terus menimbulkan suara gesekan. Tak jarang juga aku bertanya pada
gosokan itu, apa mereka lama-lama akan membunuhku karena kulit pelindung nadiku
yang terus menipis?
Setelah matahari
terik siang itu mengambil alih tugasku pada pakaian-pakaian yang menggantung di
jemuran tali tambang, aku berlari mengambil laptop dan earphone yang
kubawa keluar dari kamar tidur saat senja muncul pagi tadi. Sembari memeluk dua
barang paling berharga di hidupku itu, pergi sebelum Emmak meneriaki
diriku untuk menyelesaikan pekerjaan rumah selanjutnya bisa dikatakan sebagai
kabur. Meski dengan awal menjinjit, langkahku ternyata cukup cepat untuk sampai
di ujung kampung.
“Kenapa kau lama
sekali, Muti?”
Aku mendesis saat
menoleh ke belakang melihat segerombolan anak sebayaku menyandar mengelilingi
di tiang listrik tempat aku duduk biasanya, kecolongan lagi. Dengan
nafas kecewa, menghampiri Dewi yang tadi menyapaku adalah hal yang bisa
kulakukan. Gadis itu tampak sedang tertawa sendiri menonton siaran drama
televisi di ponselnya, sesekali berteriak karena aktor tampan idola gadis itu
muncul dengan tampang yang kupikir tidak senonoh.
“Semakin banyak
aja orang disini… Kuatkan dirimu laptop!”
Pusat untuk kami
bisa mengakses internet hanya di tiang listrik ini karena posisinya paling
dekat dengan Wi-Fi milik juragan beras. Koneksinya buruk jika banyak orang,
seperti sekarang. Tombol refresh yang terus tertekan oleh jariku pada
laptop berumur hampir satu dekade hasil pemberian pamanku adalah bentuk usaha
terbaikku bersaing internet. Tak kunjung menyambung pada internet setelah
kurang lebih 20 menit aku menunggu, rambutku sudah berantakan karena stress.
Stress ini meningkat ketika mengangkat kepala dan melihat orang-orang di
sekitarku hanya menonton drama perselingkuhan atau bahkan hanya bermain game
online.
“Kalian sedang
apa, to? Penting gak?”
Tak ada sahutan.
Selain tak dengar, mereka sepertinya tahu kesulitanku mendapat bagian koneksi
internet. Tawa mereka dan obrolan mereka satu sama lain yang tampak tak
menghiraukanku membuatku menghela kasar. Tidak bisa begini, aku sudah menunggu
momen ini dari semalaman. Aku bahkan sampai membuatnya menjadi mimpi, mimpi
duduk manis dengan tenang bersama laptop dan koneksi internet yang lancar.
“Doni, kau sedang
bermain tinju kan? Aku ingin mencobanya juga, mari bergantian denganku!”,
ucapku sembari menghampiri Doni yang berjongkok sambil menyesap rokok di
tangannya, “Yang dapat poin paling banyak boleh bisa lihat apapun selama 10
menit. Bagaimana?”
“Loh Mut, tunggu
woy!”
Tanpa persetujuan
lelaki itu, ponselnya sudah berada di tanganku. Aku yang sebenarnya tidak tahu
apapun tentang permainan ini hanya bermodal basmalah untuk bisa melihat sosial
media, Ya Tuhan sepuluh menit saja.
“Kau bisa merusak
rekorku, tak usah main tinju itu Muti. Langsung saja buka yang kau mau. Sepuluh
menit, setelah rokok ini habis kembali sana dengan laptop tua itu!”
Terima kasih
Tuhan! Aku bersorak senang mendengar tawaran Doni. Dengan cepat jari ku
mengarah ke arah media sosial bernama Instagram yang sedang tren akhir-akhir
ini. Akun ‘Kejar Mimpi’ salah satu destinasiku di menit pertengahan, senyumku
terbit setiap melihat orang-orang di media sosial. Di mataku mereka orang-orang
penuh pengetahuan dan mimpi, pasti banyak hal menyenangkan dan seru yang mereka
lakukan.
“Lihatlah senyum
lebarmu, Muti. Memangnya apa serunya melihat hal tidak jelas seperti itu?”,
tanya Doni sambil menyesap punting rokoknya kembali.
Aku langsung
menujukkannya pada Doni, “Lihatlah Don! Bukankah mereka sanat keren? Apa
influencer itu apa? Aku ingin ikut belajar hal-hal menyenangkan seperti ini.”
Doni kulirik
tampak memutar bola mata, “Apa pentingnya? Tidak berguna disini.”
Rasa bahagiaku
saat itu membuat perkataan Doni tak berpengaruh untukku, “Don, aku ingin pergi
ke Kota. Bertemu orang-orang hebat yang mengejar mimpinya seperti mereka. Lalu
belajar dan melakukan hal-hal menyenangkan. Oh, kuliah! Kalau bisa juga, aku
ingin melakukannya!!!”
Doni hanya
mengangguk, dia sepertinya tidak mengerti apa yang kubicarakan. Ponsel lelaki
itu tiba-tiba sudah menghilang dari genggamanku.
“Ya..ya.. Mutia.
Semoga Tuhan mendengar teriakanmu. Tapi sepertinya untuk sekarang kau harus
mendengarkan teriakan dunia dulu,” ucap Doni yang membuatku melipat dahi,
“Emmak mu datang. Berlarilah dulu menyelamatkan dirimu.”
Aku menoleh, dari
kejauhan wanita tua dengan daster bunga berjalan ke arah kami berada. Mataku
hanya bisa melotot dan jantungku langsung berdegup kencang. Emmak!
Plak!
Pukulan rotan itu
masih berdengung di telingaku, Emmak kembali memukulku sepulang dari
menjemputku dari tiang listrik di ujung kampung tadi. Sampai sekarang aku yang
tengah menyetrika baju masih mendengar celotehannya.
“Kau bahkan lebih
bocah dari adik mu. Jauh-jauh kabur ke ujung sana untuk intenet. Kau menonton
video dewasa?!”
“Tidak, Mak!”
Gosokan setrika
semakin kencang dan tak beraturan. Dari dapur, suara Emmak yang terus mengolok
dan menuduhku yang aneh tak berhenti. Kupingku panas mendengarnya, rasa bosan
dan lelah dengan apa yang kukerjakan sekarang.
“Sampai kapan aku
harus begini, Tuhan? Aku juga punya mimpi…”
Air mata satu
persatu menetes dan kering dari setrika yang menimpanya. Banyak hal yang
berputar di kepalaku. Aku ingin melakukan hal lain dari pada pekerjaan rumah
yang memuakkan ini. Siang itu, kuselesaikan tumpukan baju kusut sambil
menangis. Sambil terus meratapi nasib dan berpikir kapan ini akan berakhir,
petang pun tiba.
Petang kembali
dengan tiga selanjutnya, menyiram tanaman. Tanpa semangat hidup, aku
melakukannya. Melihat bunga dan daun di depanku, dan kemudian bertanya lagi
apakah mereka tidak bosan aku siram setiap hari.
“Fatimah, putri
juragan beras ternyata cantik sekali. Dia baru pulang dari kota setelah
menyelesaikan kuliahnya.”
Byur!
Selang yang
kupegang terjatuh tiba-tiba. Aku menoleh ke rumah sebelah dimana ibu-ibu sedang
bergosip. Detik itu juga kakiku sudah tidak menapak di tempat yang sama. Aku
kembali berlari ke ujung kampung tapi tidak untuk ke tiang listrik, ke rumah
pemilik intenet yang aku dan teman-teman kampung pakai selama ini.
Piring, pakaian, bunga, aku akan berhenti terus bertanya pada kalian.

Komentar
Posting Komentar