Pinggiran Roti

Jarang ada orang yang tertarik dengan pinggiran roti. Sering kali orang justru memisahkan pinggiran roti dan hanya makan bagian intii rotinya saja. Hal ini jugalah yang sering aku lakukan jika ada roti di rumah (jarang ada roti). Pinggiran roti aku ibaratkan sebagai peluang kecil yang sering kali kita tolak ataupun bahkan kita buang. 

Perisai Tisu

Manusia tidak sempurna, punya kelebihan dan kekurangan.

Dan kelebihan atau kekurangan setiap manusia gak sama, Apa yang menjadi kelebihan kita, belum tentu kelebihan orang lain juga, bahkan mungkin kelebihan kita adalah kelemahan mereka. Sama halnya, kadang apa yang kita gak bisa, ternyata jadi kelebihan orang lain.

Hal itu sebenarnya sudah menjadi  basic life mindseat, tapi penerapannya masih banyak melenceng.
Iriiiii terus....merasa kuranggg teruss...

Hey, look at back. Kita punya another things, yang gak semua orang punya.

Tapi, another things itu (kelebihan) yang kita punya, tidak boleh menjadi pedang kita untuk menjadi raja yang berkuasa dan bisa saja membunuh orang lain. Dari kelebihan yang kita miliki, jangan pernah untuk meremehkan orang lain.

Konteks meremehkan akan menjadi inti dari tulisan Pinggiran Roti ini.

Semua ada porsinya. Semua orang punya kelebihan masing-masing adalah kalimat dokrin yang bertujuan untuk buat kita jadi orang yang tidak pendengki dan selalu bersyukur. Tapi akan berbeda konteks kalau untuk menjadikannya alat silat ucap untuk orang lain, itu akan menjadi pedang tajam bagi mereka yang mungkin dalam konteks itu hanya punya perisai berbahan tisu.

Cobalah bersandiwara sebagai orang itu, kita akan tahu tetapa perih dan sesaknya tidak memiliki apapun selain perisai tisu saat ditusuk baik langsung atau perlahan dengan pedang panjang terasah yang dimiliki orang lain.

Sebenarnya semuanya harusnya begitu, respect each other. Bagaimana kita seakan menjadi orang lain, sehingga akan lebih hati-hati, memperkecil kemungkinan orang lain terinjak sakit atas apa yang kita ucapkan atau lakukan. Tapi respect tetap akan berbeda dengan Generalized Anxiety Disorder (Kecemasan yang Berlebihan). 


Tetap seimbang, tetap jaga kesehatan mental diri, making boundaries.

Back to the topic. Selain manusia, meremehkan sama buruknya pada banyak hal.

Membuang Pinggiran Roti dan Penerima Yang Baik

Membuang karena meremehkan.

Membuang pinggiran roti saat makan roti menjadi kebiasaan buruk untukku. Kebiasaan itu terus secara tidak langsung terterapkan pada bagaimana memutuskan. Aku pernah mengalaminya sendiri.

Kira-kira saat kelas 6 SD, guru bahasa Inggris di sekolah menyuruhku untuk maju memperkenalkan diri dengan bahasa Inggris. 'Tidak masuk ke dalam penilaian' adalah alasan sok yang membuatu menolak saat itu. Akhirnya ketika guruku menunjuk orang lain, aku terkejut bagaimana teman yang tertunjuk setelahku mengangguk mantap. Padahal yang mengangguk itu mengakui sendiri bahwa aku adalah panutannya dalam Bahasa Inggris.

Setelah bagaimana teman itu mengangguk dan memanfaatkan peluang yang ada, nama dia melekat di hati guru Bahasa Inggris kami. Ia selalu dipanggil untuk berkompetisi, mendapat pembinaan, kemampuannya meningkat pesat menyalipku, dan akhirnya mencetak prestasi.

Penyesalanku bukan sesuatu untuk tulisan ini, tetapi pesan dari kejadian itu bisa menggambarkan pinggiran roti sering yang aku buang. Karena meremehkannya.

Kebaikan akan menghampiri orang-orang yang termasuk dalam golongan penerima yang baik. Sejak saat itu, aku selalu membiasakan untuk menerima setiap maksud baik dari orang lain. Tapi kalian tidak boleh menangkap hal ini mentah-mentah, kalian perlu memahami konteks ini dengan tepat dan jeli.

Injury Time


Pecinta sepak bola mungkin tidak akan asing dengan kata subjudul ini. 

Injury time adalah suatu perpanjangan waktu yang diberikan dalam pertandingan sepak bola dan menurut sumber diberikan 2-3 menit setelah babak pertama atau babak kedua berakhir. Saat musim-musim piala dunia, Ayah dan saudara laki-laki ku banyak membicarakan bola, begitu juga dengan laki-laki teman mereka yang ikut menonton bola bersama di rumah kami. Injury time banyak menjadi pembicaraan para pecinta sepak bola, karena justru saat menit-menit terakhir, yaitu saat injury time berlangsung, saat itu banyak gol-gol emas terjadi.

Ketidaktertarikan diriku dengan sepak bola berbeda dengan topik yang dibicarakan para pecinta bola itu. Rasa penasaran membuatku secara tidak langsung menguping, dan berpikir tentang sesuatu.

Sebagian orang berpendapat bahwa banyaknya gol yang terjadi saat injury time disebabkan oleh berkurangnya konsentrasi pemain karena terkurasnya stamina dan faktor fisik. Hal ini sangat menentukan mengapa banyak pemain kehilangan konsentrasi dan kebobolan di menit-menit terakhir sebelum kemenangan.

Tapi satu hal yang sangat menurutku juga akan sangat mempengaruhi. Rasa puas.

Tidak menutup kemungkinan faktor psikis juga memegang peranan penting atas terciptanya gol-gol pada injury time. Salah satu faktor psikis itu adalah rasa puas. Beberapa pemain mungkin akan puas ketika mereka behasil unggul satu-dua poin gol. 

Meremehkan pinggiran roti.

Merasa puas dan meremehkan lawan bahwa mereka tidak akan mungkin menyainginya, yang padahal itu sangat bisa terjadi. Bagi beberapa pemain, injury time adalah waktu buangan. 

Zona nyaman akan sangat berbahaya karena ia tidak berbahaya

Sama seperti pinggiran roti. Jangan pernah meremehkan, justru injury time adalah masa dimana konsentrasi diuji untuk tetap bisa mempertahankan. Membuang pinggiran roti dan menjadi lengah. Muali terbuai dengan kesuksesan yang ada. Meremehkan pinggiran roti yang sebenarnya sangat berpotensi menghacurkan dengan sekejap hitungan.

Kumpulkan kembali Pinggiran Roti yang Terbuang

Apabila kita sudah terlanjur membuang pinggiran-pinggiran roti, kita dapat mengumpulkan kembali pinggiran roti dan remahan-remahan tersebut. Penyesalah memang selalu datang terlambat, tetapi tidak ada kata terlambat bagi kita yang punya keinginan untuk memperbaikinya. 

Hal yang kelihatannya kecil dan sepele, namun bisa jadi kerugian besar. Itulah yang dimaksud pinggiran roti. Pinggiran roti selalu kelihatannya sepele. 

Salah satu hal yang membuat pinggiran roti itu berbahaya yaitu justru karena dia tidak terlihat berbahaya. Hal yang membuat dia berbahaya karena dia begitu sepele, begitu kecil, dan membuat kita sering meremehkan keberadaannya.

Halo semuanya, jangan pernah sepelekan pinggiran roti. Kumpulkan kembali pinggiran-pinggiran roti yang sudah kamu buang. Jangan sampai hal-hal berharga hilang karena hal-hal sepele. Cobalah mengingat setiap detail dari setiap kejadian. Aku suka sekali dengan kalimat "Detail is power". Detail adalah kekuatan. Buka kacamata meremehkan kita.

Lihat sekeliling dan pikirkan, apakah ada pinggiran roti yang kita buang?




Komentar

Postingan Populer

Sense Of Crisis

Tabah Tabu