Tabah Tabu
Seseorang yang dengan polos dan sucinya terlahir ke dunia yang penuh dan keras, Cerpen-ku 2019.
“Bagaimana
kabarmu?” katanya.
Kalimat itu mengawali pembicaraan kami. Suara wanita tua yang masih terdengar keras meski diselingi batukan membuatku semakin ingin menangis. Melalu telepon seluler milik Cik Uyung, aku mengucap salam mengingatkan. Mak Ti diseberang telepon tertawa renyah yang dilanjutkan menjawab salamku.
Pertanyaan tentang masalah apa yang terjadi sampai-sampai Bu Yuni—satu-satunya orang yang memiliki ponsel canggih disana harus meminjamkannya padanya, hanya kujawab dengan kata rindu. Mak Ti tertawa, membuat kedua ujung bibirku tertarik ke atas. Dibelakang jendela, sembari memandang ribuan rintik air dari awan-awan yang menggelap sedari tadi, memadu di gelapnya hari didukung semilir angin malam yang ditangkap oleh reseptor Krause pada kulitku, aku mulai bercerita semuanya.
Aku membicarakan banyak hal yang
seru dengan Mak Ti. Seru, seperti halnya, gadis-gadis yang berada dibelakangku saat itu yang tertawa lepas membicarakan banyak hal yang
seru, sepertinya. Seru, sampai tak ada keinginan menyapaku sama sekali. Setelah
itu aku berdiri, menggendong tas ransel berwarna hitam polos milik Mak Ti yang
kupinjam, dan melangkah melewati gerombolan itu dengan sudut mata sedikit
mengharap. Jatuh sakit, terhempas seperti angin. Mereka tak bergeming, tetap
menganggapku seperti angin.
Aku benci, aku ingin berteriak. Aku benci kenapa mereka tak ada hati mennyapaku,
mengajakku berkenalan, lalu mengajakku berteman bersama mereka. Aku benci dengan
diriku yang sangat penakut untuk berkenalan dengan mereka. Menyebalkan. Aku
ingin punya banyak teman. Aku tak bisa hidup sendirian. Hidupku, di kota
sebesar gaban tanpa teman.
Benci dihiraukan, ketakutan untuk
bersuara duluan. Menjadi alasan besarku untuk pulang yang didukung langit yang
mulai menjingga. Meruntuki diri sendiri mengapa rela duduk disana tadi,
berharap supaya mereka menyapaku. Alasan kudapat kertika dua kaki ini sudah
menapak diluar kelas, mendengar tawa gadis-gadis itu lagi sambil menyebut
dengan keras “gadis kampung”. Aku mengerti, aku tahu itu aku, aku sadar, dan
aku benci.
Hari itu terus berjalan, dimana
kakiku terus menapaki trotoar, membawaku ke keramaian taman kota. Melihat Akang
Bandung yang sedang melumuri ciloknya dengan saus merah dan menusukinya dengan
tusuk sate, dilanjutkan menyulapnya menjadi uang ribuan dan receh. Melihat
sepasang kekasih pemilik dunia milik berdua yang sedang bahagia. Serta
telingaku yang ikut sakit karena rengekan anak keil pada ibunya untuk
membelikan sesuatu. Balon, mungkin.
Berlagak seperti rumput liar di antara padi berumur sekitar tiga bulan,
mendongak menatap gedung-gedung pencakar langit yang sudah tak jarang
tertangkap mata. Menatap mobil-mobil bergengsi yang berlalu lalang, bisa
kutebak pengendaranya memukul-mukul klakson mereka ketika bertemu macet
diseberang sana. Serta, asap-asap kendaraan yang merusak lapisan ozon bumi dan
menyakiti hidungku. Aku tak suka keramaian, aku benci gedung-gedung tinggi, aku
menyukai pemandangan sawah-sawah dikampung, aku rindu bau tanah yang terpecikkan
seember air yang Mak Ti ambil dari sumur belakang Tanean.
Bekerja disini sangat menyakitkan. Memasak
yang menjadi keahlian karena kebiasaan, menjadi andalan untuk memenuhi
kebutuhan. Senjata makan tuan, tak salah Mak Ti dulu menjewer telingaku karena
aku bertanya kenapa aku harus bisa memasak, dengan acuan Mak Ti yang akan
selalu memasak untukku. Benar, sekarang aku butuh itu.
Kemampuan untuk melamar kerja di usaha Cik Uyung untuk siswa SMA, alias lulusan SMP sepertiku hanya memasak. Aku
berkerja disalah satu rumah makan miliknya yang tak jauh dari kost tempat aku
tinggal yang juga menjadi miliknya. Bekerja
yang menjadi tuntutan, tanpa teman. Melayani pelanggan dengan senyuman
sekan-akan hidupku paling menyenangkan. Memasak, melayani, dapat gaji, selesai.
Menyedihkan, monoton, dengan kesan membosankan. Membuatku merindukan warung
kecil didepan rumah, menemani Mak Ti berjualan nasi pecel kesukaan sambil bercanda
tawa akan semua yang menyenangkan. Bermain bersama Rahma, Ahmad, dan Doni
sementara Mak Ti melayani pelanggannya.
“Jangan lupa memasukkan daun jeruk,
kau biasa lupa dengan itu,” ucapan Mak Ti yang diiringi suara batu dengan
cobek batu yang beradu, membuatku tersenyum. Mak Ti tertawa untuk detik selanjutnya.
Entah apa yang membuatnya sering
tertawa. Dia lebih terdegar lembut dan penyayang. Berbeda sedikit dengan dulu
yang lumayan tegas dan tak jarang garang kepadaku. Saat kutanya, rindu katanya.
Membalas ucapanku diawal pembicaraan tadi. Aku tertawa, lucunya wanita itu.
Suara merdu Mak Ti menyenandungkan
pelan “Malathe Pote” selanjutnya, menghadirkan kembali rasa benciku pada tempat
ini. Orang-orang berseragam sama denganku waktu itu yang tertawa terbahak-bahak
karena aku menyanyikan lagu itu. Lagu yang menjadi kesukaanku, lagu pengantar
tidurku yang dibawakan dengan cengkok oleh Mak Ti . Cengkok, mereka semakin tertawa kerika aku melakukan itu. Mereka
merendahkanku, memandangku menjijikkan. Hanya guru disebelahku yang tersenyum
dan bertepuk tangan.
Aku benci mereka semua, mereka yang
bukan temanku sama sekali. Aku ingin menangis. Aku ingin berucap seperti pisau yang
baru diasah pada mereka. Mereka yang menertawakannku hanya
karna menyanyikan lagu daerah asalku. Mereka yang membuatku tak mengerti karena
kebanggaan mereka menyanyikan lagu bahasa asing dengan senyum paling keren diwajah
mereka. Memandang benci lagu asli, bangga dengan lagu asing, membuatku yang melihatnya tertawa. Tertawa dalam hati, tentu saja. Membuatku
semakin benci dengan diri ini yang terlalu penakut. Menyebalkan.
Tambah menyebalkan lagi ketika
disatu malam, di rumah si Steven. Dengar-dengar anak orang berada. Ia
mengundang seluruh masyarakat sekolah di acara tambah umurnya. Aku di undang.
Catat, semua warga sekolah, tak ada kemungkinan karena dia mengenalku. Setelan
kemeja kotak-kotak dan rok Panjang lengkap dengan hijabku kembali mengundang
tawa dalam diam orang-orang itu. Aku menunduk, cukup terkejut dengan pakaian
ber-harga milik mereka. Terpikir ini adalah syukuran seperti didesa, ternyata
pesta untuk orang kota. Aku meruntuki diriku snediri, ini bukan syukuran tambah
tahun Ahmad di desa, ini pesta Steven di kota. Aku malu, aku tak tahu. Mereka
tertawa diatas keadaanku yang tidak tahu, bagaimana jika karena aku juga tidak
memliki baju megah seperti mereka? Mungkin akan semakin terbahak.
Semuanya yang aku lakukan seperti
lucu di mata mereka. Aku makan saja, menyuap nasi dengan sayur lodeh—menu yang semalamnya
lebih di rumah makan Cik Uyung, mereka memandangku aneh lagi. Mereka yang
berlalu lalang melalui ku, hendak pergi ke kantin—mungkin, tersenyum menahan
tawa sambil memandang makananku dengan tatapan tak nyaman. Aku suap bekalku,
rasanya enak, sudah aku hangat lodeh ini tadi malam. Apa yang salah? Aku tak mengerti,
aku mohon, aku butuh penjelasan sampai sekarang. Siapapun.
“Mungkin mereka ingin lodeh
milikmu,” tebak Mak Ti sambal terkekeh. Aku berpikir sejenak, lalu menghela
kasar. Sepertinya tidak mungkin. Entahlah.
Aku bercerita banyak hal pada Mak Ti malam
itu. Bercerita bagaimana diriku yang sudah dua tahun lebih pergi meninggalkan
desa karena paksaannya untuk belajar di kota. Kami berdua tertawa mengingat
bagaimana Mak Ti dulu yang melotot padaku sembari memegang rotan panjang, siap
menyerang betisku yang sudah memerah sedari tadi. Memaksaku untuk melanjutkan
sekolahku ke kota besar. Saat itu aku menangis seengukan, memeluk kedua kakiku
yang tertekuk dipojok dapur. Bisa kubayangkan, menyedihkannya aku saat itu.
Tapi mungkin tak semenyedihkan hidupku disini.
Kutanya pada Mak Ti kabar Rahma, Ahmad, dan
Doni disana, teman-teman akrabku di desa. Ahmad ceritanya sedang fokus membantu
menggarap tanah di sawah, membantu orang tuanya. Tetap seperti dulu, Ahmad si
pekerja keras, pantang menyerah, dan tidak menyeleneh seperti Doni.
Doni, Mak Ti bilang ia tak melihat sama sekali batang hidung anak itu
beberapa lama ini. Entahlah kemana, sedikit
membuatku penasaran. Aku terkikik kecil mengingat bagaimana lucunya
lelaki itu saat mengatur nafasnya yang tak beraturan saat bermain engklek di
depan rumahnya bersamaku, Rahma, dan Ahmad, padahal baru dua kali meloncat. Ia
mengangkat kedua tangannya, membawa tubuh gempalnya duduk dibawah pohon kersen sambal
menyuap satu-satu buahnya yang sudah jatuh disampinya ke mulutnya.
Cukup lama Mak Ti diam saat ku beralih ke Rahma. Hasil dari ku menunggu
adalah rasa keterkejutan. Rahma katanya waktu itu dilamar Mudi, konglomerat
yang dikenal buaya darat disana. Mereka menikah, dan beberapa bulan setelahnya
Rahma kabarnya diceraikan. Setelah itu, Mak Ti tak berkata apa-apa lagi. Mak Ti
hanya bercerita banyak gadis-gadis kampung seumuranku disana yang sudah menikah
dan tak jarang yang sudah berbadan dua.
Aku melangkah keluar kamar sambal terus mendengar Mak Ti bercerita. Duduk
di teras, ditemani semilir angin malam dan suara jangkrik yang
bersahut-sahutan. Memandang atap bumi yang gelap berhiasakan berlian-berlian
kecil indah penuh mimpi. Dari jawaban-jawaban Mak Ti tadi, aku merasa ini
adalah sebuah keajaiban.
Sebuah kejaiban, dimana disini aku mendapat kesempatan untuk memenuhi
impian anak-anak muda, yang dulunya aku pikir mustahil dan tak perlu. Aku hidup
di kota yang jauhnya 544 mil jauhnya dari kampung. Pergi meninggalkan
mereka-mereka seumuranku yang menetap disana hanya untuk menuntut ilmu yang
pertamanya karena paksaan. Menyusun masa depanku disini. Berlari jauh dari
mereka-mereka yang berakhir pasrah, seperti aku dulu.
“Kau beruntung,” ucap Mak Ti.
Aku berpikir lagi untuk kesekian kali. Memang benar aku disini. Diatas
mereka dan menakjubkan jika dipandang sebelah mata. Asal tahu saja, menata
hidup dikota sebesar ini sepertiku, tak semudah ekspestasi. Gadis kampung yang pergi meninggalkan kampungnya, bergabung bersama orang-orang kota yang
keras, sarkas, tak berhati. Dengan bukti akhir bukan menjadi bagian mereka.
Mereka terlalu kasar, tidak sepertiku yang diam membisu tanpa suara. Mereka
terlalu kejam, mereka terlalu ber-harga.
Orang-orang bergengsi yang prakmatis.
Aku hidup dalam ketakutan dikota sebesar gaban tanpa teman. Sebuah hal baru
yang sangat mengejutkan. Kesepian dengan orang-orang yang juga sama sekali tak
berkenan. Sebuah sulit yang menyusahkan. Mereka bukan levelku, aku tak akan
bisa. Mereka berbeda selera denganku, aku tak suka. Mereka bukan milikku, aku
benci. Semuanya ku tak suka, itu hal yang kubenci, kuharap jangan ada lagi.
Lihat saja bagaimana Tuhan menghidangkan akhirnya nanti.
Aku rela menunggu, aku akan selalu memohon dan berdoa pada-Nya. Akan
kutahan semua yang membuatku benci itu. Aku tahu hadiah Tuhan tidak akan
mengecewakan. Aku pasti bisa, putus Mak Ti diakhir pembicaaraan. Kujauhkan
ponsel yang sedari tadi menempel di telingaku sambal mengeluarkan beberapa
lembar ribuan dai saku celana. Menggantikan pulsa yang sudah kuhabiskan untuk
berbicara dengan Mak Ti.
Ingat, kota keras tak ada yang pernah cuma-cuma.

Keren bgt 😍
BalasHapus