Pahlawan Dekat
Suara benturan piring dan sendok memenuhi ruang makan. Seorang pria tua tengah menatap lembut kepada cucu perempuannya yang memakan sarapan paginya tanpa suara dengan wajah datar. Sang kakek melirik ke arah foto mendiang istrinya yang terpasang pada salah satu dinding ruang makan sambil berpikir topik apa yang pas untuk memulai percakapan dengan cucunya pagi itu. Pasalnya selama ini seakan ada dinding pemisah yang diciptakan sang cucu padanya, mungkin saja dia marah karena kakek nya ini memintanya menemani masa tuanya di rumah ini ketimbang ikut orang tua gadis itu ke Amerika.
"Rencanamu pergi ke museum hari ini jadi, Fatma?", tanya sang kakek akhirnya memecah kesunyian.
Tanpa semangat, gadis itu mengangguk, "Ya. Bukankah Fatma sudah bilang kemarin sore pada kakek?"
"Ah ya, kakek lupa. Maklum kakek sudah tua," alasan sang kakek, walaupun dia ingat betul kemarin Fatma sudah izin kepadanya, "jadi ada acara apa Fatma ke museum? Apa ada tugas? Atau ujian?"
Fatma kembali mengangguk dan lanjut memasukkan makanan dalam mulutnya. Gadis remaja itu tampak hidup dalam rencananya sendiri, bersama dengan sebuah earphone yang memperdengarkan lagu tanpa menghiraukan kakek nya yang mulai berbicara menceritakan tentang masa lalunya. Pria tua itu ternyata ikut andil dalam sejarah kemerdekaan.
"Kamu tahu sejarah kita bukan, Bandung Lautan Api? Beberapa teman seperjuangan Kakek gugur disana saat pertempuran," jelas sang Kakek bercerita.
Rasa kecewa kembali muncul ketika tahu sang cucu tidak mendengarkannya. Gadis itu hanya diam melihat ponsel di tangannya, tanpa tertarik dengan ceritanya. Ia hanya tertawa saat tampaknya melihat suatu hal lucu yang ada di ponsel nya. Kakek nya ikut tersenyum melihat tawa itu, meski benar tahu bahwa tawa itu bukan untuknya.
Tin tin!
Suara klakson membuyarkan keduanya, Fatma beranjak dari duduknya dan pamit pada kakeknya untuk berangkat. Meninggalkan pria tua yang tanpa se pengetahuannya berdoa untuknya selamat sampai tujuan.
***
"Selamat pagi penulis naskah! Silahkan helm nya neng..."
Senyum Fatma langsung hilang saat mendengar sapaan Budi yang terdengar sangat menyebalkan. Lelaki itu terus membuatnya kesal. Kegembiraan nya itu karena tugas kelompok kali ini adalah bidang yang Fatma tekuni. Budi hanya berguna sebagai ojek ke museum, itu alasan kegembiraan nya.
Saat berangkat Fatma sudah lesu dan Budi yang malah gembira. Kepulangan mereka dari museum sedikit berbeda. Budi malah menggaruk kepala bingung dengan apa yang terjadi dengan Fatma. Gadis itu tiba-tiba stress dan penuh emosi.
Budi berdeham kemudian dengan hati hati bertanya, "Lo... gak papa?"
Fatma semakin ingin menghela napas kasar sambil melirik catatan nya yang masih kosong, "Maaf gue gak bisa selesain ini sekarang. Nanti gue urus, lo bisa pulang."
"Eh Fatma—", Doni menghentikan langkah Fatma yang sudah hendak masuk ke rumah nya, "Kalau lo perlu bantuan bisa hubungin gue."
Fatma menoleh tajam, apa yang memang nya bisa lelaki itu lakukan. Dan Doni pun langsung menunduk diam ketika sadar apa yang gadis itu maksud. Doni juga melihat air mata sudah siap tumpah di pelupuk mata Fatma, apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis itu.
Setelah pamit sekadarnya pada Doni, Fatma masuk ke rumahnya terburu-buru. Ia menghiraukan semua yang ada di sekitarnya termasuk kakek nya yang tengah tersenyum atas kedatangannya. Kamar tidurnya menjadi destinasi utamanya, ia masuk dan segera menutupnya. Tubuhnya langsung terkapar di kasur empuknya sembari menghela kasar, apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Kepalanya terus berputar-putar saat di museum tadi, ide nya tak muncul dan maupun patung atau informasi disana tak memberikannya titik cerah. Air mata Fatma langsung tumpah saat itu juga, ia menangis dan perlahan tangisan nya semakin keras. Waktu dan usaha nya kembali terbuang tanpa hasil apa-apa, dan Fatma membencinya.
Fatma membencinya dari awal, berada di rumah kakek nya dan terpaksa melanjutkan SMA nya di sekolah negeri. Impiannya sebagai siswa peringkat teratas sekolah untuk ikut Ayah-Ibu nya ke Amerika dan melanjutkan sekolah disana kandas dari awal. Cih, bahkan bayangannya untuk ber-eksplorasi Patung Liberty bersama teman bule bermata biru nya terganti dengan patung Soekarno di museum nasional bersama Doni yang berambut ikal.
"AAAHHH"
Tidak bukan itu masalah nya, catatan nya yang kosong membuat Fatma berhenti menangis dan dan bangun untuk duduk. Fatma adalah gadis perfeksionis tentang hidupnya dan segala akar-akarnya, setidaknya ia bisa menjalani sekolahnya disini dengan sempurna. Hal sepele yang tidak bisa ia selesaikan seperti tugas sejarah ini membuatnya stress. Gadis itu mengacak-acak rambutnya, apa yang harus ia lakukan sekarang.
Tok tok!
Fatma kembali menghela napas, siapa lagi kalau bukan kakek nya. Ia yang tadinya diam tetap terdiam, berharap kakek nya menganggap nya tidur dan pergi dari balik pintu. Kakek nya mungkin bisa membantu nya untuk tugas nya sebagaimana dialog nya yang sengaja ia hiraukan saat sarapan pagi tadi. Membencinya? Jika diingat tinggal disini adalah keputusan pribadi nya, seperti nya akan aneh jika menggunakan kata benci untuk interpretasi. Tapi hal aneh itu ia lakukan sampai sekarang, penyesalan nya banyak ia tumpahkan sebagai semen dinding bagi kakek nya.
Sreet!
Secarik kertas putih muncul dari kolong bawah pintunya. Helaan nafas untuk kesekian kalinya, Fatma menebak kakek nya kini berharap dapat menjadi pahlawan untuk tugas riset pahlawan nya. Ia tidak menyentuhnya sama sekali, ketidaktertarikan terlihat dengan Fatma menenggelamkan kepalanya diantara kaki yang ia peluk. Sekian persen alasan lainnya ia tidak perlu bantuan kakek nya adalah karena bahasa para orang tua yang kaku dan tidak cocok dibaca di era artikel populer seperti sekarang, dan Fatma tahu kakek nya adalah salah satu orang tua itu.
Bukankah Fatma bisa menyuntingnya? Ya, gengsi atas tembok besar yang sudah ia bangun adalah yang membuatnya tidak berkutik. Tapi bukankah gengsi tak menyelesaikan tugasnya?
Ya, dan itu yang membuat Fatma berjongkok membaca kertas itu dengan seksama sekarang.
.png)
Komentar
Posting Komentar