Ekonomi Mimpi

Makin dewasa, banyak fakta-fakta kehidupan yang akhirnya membuat kita takut menciut takut. Padahal diri kecil kita dulu selalu ingin cepat dewasa dan yakin akan memiliki semua hal di dunia. Diri kecil kita, tidak mengkhawatirkan apapun.

Tapi itu tidak apa-apa. It's normal because we getting older. Takut dan khawatir disetiap keputusan maupun tindakan akan membuat kita terus belajar dan berlatih. 

Diri kecil kita dengan mudah membuat keputusan, misalkan merengek dan memaksa membeli boneka yang sebenarnya seharga jatah belanja 3 hari Ibu nya. Tapi diri kita yang sekarang terlalu banyak berpikir untuk membeli sebuah buku dan akhirnya menghela kasar sambil berpikir kenapa diri kita tidak kaya. Padahal hanya tentang satu buku dan kita menyalahkan semesta. 



Meski dengan pikiran awal yang buruk, akhirnya keadaan itu yang memaksa kita untuk mencari cara bagaimana bisa mencari uang. Belajar lah diri kita tentang hal baru. Tanpa sadar kita tumbuh. 

Tapi, ada yang membuatku berpikir. 

Diri kecil kita ternyata bermimpi secara universal. Dia punya keinginan dengan intuisi dan perasaan dari apa yang mereka lihat. Mereka membuatnya menjadi mimpi, tanpa perlu memikirkan apa selanjutnya. 

Kita yang beranjak dewasa, merasa sulit karena satu tugas baru yang tidak kita pikirkan saat kecil, yaitu tentang aksi mewujudkan mimpi itu. Terasa sulit, karena kita akhirnya tahu bahwa tidak semua orang dan tidak semua keadaan bisa mendukung apa yang sedang kita lakukan. Kalau dalam ekonomi, 'modal' kita tidak cukup dan tidak sempurna.

Apa yang aku maksud?

Yang kumaksud bukan sekedar tentang donat yang perlu modal 100.000 tapi yang kita punya hanya 50.000. Bukan sekedar itu.

Lalu bagaimana?

Ada anak memiliki mimpi untuk menjadi dokter. Dalam usaha mewujudkannya, modal yang dia perlukan secara umum adalah kuliah, uang, dan otak yang pintar. Anak itu tidak punya uang, dan otomatis dia kehilangan salah satu modalnya untuk menjadi dokter. Tapi haruskah dia berhenti?

Sejauh aku mempelajari, ilmu ekonomi juga masih realistis tentang tidak semua orang itu kaya dan punya modal yang sempurna. Ada elemen-elemen lain yang bisa kita taruhkan sebagai modal.

Meski anak tadi tidak punya uang, dia bisa mempertaruhkan waktu bersantai saat weekend nya dan pergi belajar. Waktu santai yang ia taruhkan membawa modal otak nya menjadi berlebih. Singkat cerita, dia dapat beasiswa karena kepintaran nya. Ia berhasil tanpa modal uang, ia bisa tanpa modal yang sempurna.

Teman nya, juga ingin jadi dokter. Uang bukan masalah baginya, kelemahannya adalah modal otaknya. Dia tidak begitu pintar, dia tidak secepat lainnya dalam menerima materi. Mari katakan satu modal nya hilang. Tapi mimpi tetaplah mimpi. Dia melakukan usaha dengan mempertaruhkan uang yang ia punya. Pergi bertaruh uang bimbel dan berusaha disana lebih intensif. Akhirnya dia berhasil menjadi dokter juga.

Ini yang kumaksud dengan Ekonomi Mimpi. Bagaimana ilmu ekonomi tentang input output, modal dan pendapatan. Tentang bertaruh dan mendapatkan. Fakta-fakta kehidupan yang tidak bisa kita kontrol dan konsep ekonomi.

Diri kecil kita cukup bermimpi dan selesai. Biarkan dia menikmati masa kecilnya. Kita yang semakin dewasa punya satu tugas baru yaitu usaha mewujudkan mimpi dari diri kecil kita. Usaha itu perlu modal. Fakta kehidupan menunjukkan bahwa modal itu tidak sempurna. Tapi ada elemen-elemen lain yang bisa kita taruhkan untuk menutup modal itu.

Memberi dan mendapat dalam konsep bertaruh ini juga tidak statis. Fakta kehidupan lain saat beranjak dewasa juga memiliki kemungkinan. Semakin kita dewasa, ada perasaan dan status orang lain yang kita ikut pertimbangkan. Meski buruk karena kadang berlebihan, ternyata kita memang semakin dewasa dan tahu apa itu perasaan.

Apa konsep ini membuatmu semakin bingung dan menganggap dunia sulit? 

Meski sulit, itu yang bisa kita lakukan. Bertaruh apa untuk apa yang tidak kita punya dan dapat terus berjalan akan jadi bentuk usaha kita dalam meraih mimpi. Tugas kita sebagai orang yang beranjak dewasa mulai bisa kita lakukan.

Ingatlah dua contoh anak tadi, meski mereka berusaha dengan cara yang berbeda. Pasti ada cara untuk mereka membuatnya menjadi menyenangkan dan bermakna. Ekonomi memang sulit, tapi bermimpi tidak. Teruslah mencoba dua hal itu dalam kolaborasi. 

Ekonomi Mimpi.





Komentar

Postingan Populer

Sense Of Crisis

Pinggiran Roti

Tabah Tabu