O-Ambitious
Aku anak yang merasa aku jarang mengekspresikan perasaan terlalu terlihat, termasuk memperlihatkannya kepada diriku sendiri. Tapi entah kenapa karena peristiwa akhir-akhir ini rasa keweca bener-bener menggerogoti badanku sampai ke hati.
Menyontek.
Sebagai siswa SMA, menyontek mungkin adalah hal yang 'wajar'. Tapi bagiku enggak sama sekali.
Akhir pekan ini aku memutuskan menuliskannya di blog ini-yang sedang di depan mata kamu, tentang beberapa hari lalu dimana peristiwa 'menyontek' yang selalu jelas menusuk mata ku sampai ke hati.
Lebih dari satu mata pelajaran ujian, siswa menyontek dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang hafalan, ada pake HP Google, ada yang nulis di kertas sebelum ulangan dan diselipin di kotak pensilnya, dan bahkan ada yang berani pake teknik cara bocil SD-nulis tangan.
Siswa SMA melakukan itu, mungkin gak semuanya-but i don't know. Tapi yang aku jelas lihat hampir semuanya. Karena satu mindseat dan gak mau kalah satu sama lain.
Duduk di bangku kelas 3, dari kelas 1 SMA aku memang sudah gak suka dengan hal itu. Dulu aku pernah menolak tawaran tentang bocoran soal, membuat langsung diam. Dan mungkin ya, itu jadi alasan sampe sekarang gak pernah nawarin dan gak pernah ngajak aku.
But it's okay, no problem for me. Big no problem.
Kenapa harus menyontek? Apa sepenting itu nilai?
Ya, memang gak boleh munafik. Dunia Pendidikan realitanya memang tentang nilai. 'Nilai bukan segalanya' adalah salah satu dusta kecil yang selalu melekat di Indonesia. Sekarang semuanya tentang nilai. Untuk menunjang masa depan, katanya.
Mungkin orang yang bersangkutan tentang hal ini akan protes kalau baca bacaan ini. Aku gak seharusnya mempermasalahkan mereka. Aku sendiri yang udah memutuskan untuk gak melakukan apa yang mereka lakukan, jadi gak perlu banyak komentar. Semua orang punya pilihan dan konsekuensinya masing-masing.
But remind,
Kalau berealita kepada nilai yang hanya bersangkutan dengan mereka sendiri, bukankah harusnya kita lebih memilih berealita kepada keadilan yang bersangkutan dengan banyak orang. Pikirkan bagaimana orang lain yang benar-benar berjuang? Ujian yang berasaskan dasar nol bersama-sama, menyontek menurutku adalah kecurangan mengambil start 9 dari 10. Memang semuanya berjuang, dengan caranya sendiri entah kapan dan bagaimana. Tapi dengan menyontek, mereka menghancurkan mental yang berjuang dan memulai start dari 0.
Dan mereka yang hancur kecewa, gak bisa berbuat apapun, karena mereka berada di dalam lingkaran pertemanan yang katanya 'solid'.
Itu adalah gambara rasa kecewaku.
Sedikit dari kejadian yang aku alami. Kebetulan yang saat itu diconteki adalah salah satu mapel yang aku sukai dan aku tekuni-aku bisa mengakui potensiku di bidang itu. Rasa kecewa ku muncul jelas sebelum ujian, melihat mereka dengan tenangnya duduk karena nasib mereka aman sementara aku yang selalu panik sendiri mengingat-ingat apa yang aku pelajari.
Mungkin nanti mereka akan bilang, kalau kita kan memang menguasai bidang itu, Jadi meskipun tidak menyontek nilai masih aman, katanya. Lalu apa? Memangnya nilai kita akan benar terjamin? Sebesar apapun penguasaan seseorang, ujian murni pasti akan ada suatu waktu ada saat mereka salah, meski tidak selalu begitu.
Ada juga satu mapel lain yang kalau ujian tidak mungkin menyontek, gurunya masih muda dan jeli. Akan mustahil kalau menyontek, sehingga kami belajar untuk ujian. Kebetulan lagi itu mata pelajaran yang tidak begitu kita kuasai. Tapi curang benar-benar jangan pernah terbayangkan di otak kita.
Curang bukan jalan keluar, tapi jalan buntu yang didobrak paksa untuk sampai ke tujuan.
Bukan karena kita tidak menguasai dan bukan kemampuan kita, kita punya hak untuk menyontek. Jalan keluarnya adalah belajar. Semaksimal mungkin yang kita bisa.
Bukankah memang harusnya begitu? Jalan keluarnya adalah berusaha.
Jadi meski nilai kita tidak telalu tinggi seperti mereka yang memumpuni bidang itu, minimal kita puas karena hasil maksimal. Maka dari itu, selama lebih dari dua tahun aku di SMA aku tidak pernah kecewa atas nilai. Mungkin kecewaku lebih kepada diri sendiri, kenapa tidak lebih maksimal lagi.
But, I think it's my proportion. It was good, I've another passion.
Back to topic, apapun alasannya curang itu salah.
Overmore, isn't show betapa mirisnya Pendidikan Indonesia? Ini adalah tentang etika dan sikap, sikap tidak jujur dan ketidakadilan dasarnya dari lingkungan sederhana seperti ini. Oh, bukan lingkungan sederhana, lingkungan besar. Bukankah dunia Pendidikan adalah lingkuran harapan negeri? Lalu bagaimana negeri di masa depan kalau generasinya sudah bertindak demikian dari hal sederhana.
Yeah, renungan diri.
Mungkin menulis ini akan terlihat seakan paling benar. But, renungkan. Isn't wrong?
Aku juga remaja yang sifat dasarnya labil, but i'm trying. Mungkin siswa siswa di luar sana yang kontra juga terhadap hal ini merasakan hal sama. Oknum ini bahkan yang akan mudah ikut terjerumus. Bagaimana tidak? Melihat sekitarnya yang melakukan dan diuntungkan, sedangkan dia yang membisu tanpa tahu nasib nya hari itu. Munafik akan selalu telintas di kepala kami.
Tapi kembali lagi, bertahanlah. Mari ciptakan lingkungan yang sehat dan bersih secara sosial. Mari bersama menjadi generasi yang bersikap dan berpikir luas untuk mindseat pemimpin Indonesia Emas nantinya. Dunia nantinya pasti tahu siapa yang pantas. Semangat.
Proses ada dua, terlihat dan tidak telihat. Untuk terlihat, kamu membutuhkan hasil. Tapi bertahanlah dengan apapun prosesnya, hasil luar biasa akan datang dari melihat bagaimana caramu berproses.
-Isysyika Imasyta-
.png)
yang jujur seperti Kaka, sangat menginspirasi sekali bagi saya untuk belajar lebih giat lagi, terimakasih kak
BalasHapusHalo, thank you for share. Terima kasih untuk sadar, kamu gak sendiri. Aku percaya masih ada separuh generasi yang harusnya sadar, amazing. Selamatkan dengan tindakan. Bertahan ya, kita berkualitas. Have a great day!
Hapus